Sabtu, 07 Desember 2013

sejarah budaya jawa

SEJARAH KEBUDAYAAN JAWA TENGAH

ebegIndonesia memliliki banyak sekali kesenian-kesenian tradisional yang unik-unik, setiap daerah memiliki keseniantradisional yang unik dan berbeda sesuai dengan adat danbudaya daerah masing-masing sehingga keragaman bentuk serta karakter permainanya pun berbeda pula.
Dalam kesempatan ini saya mau ajak Anda untuk mengenal kesenian tradisional Ebeg dari Jawa Tengah. Walau kesenian ini sudah lama tidak terdengar lagi tajinya, namun kesenian ini adalah salah satu kesenian tradisioanl Jawa Tengah yang bertahan sampai sekarang dan telah turun-temurun di kalangan masyarakat. Maksud saya menulis ini adalah untuk mengajak pembaca semua mengenal kembali budaya-budaya lokal daerah di Indonesia yang hampir punah di telan gelombang kemajuan zaman.
Ebeg adalah salah satu kesenian tradisional yang gaungnya sudah tidak lagi terdengar. Namun di beberapa tempat di Jawa Tengah, masih ada grup kesenian ebeg yang bertahan dan tetap setia menghibur penggemarnya. Ebeg sangat kental dengan alam gaib. Sebuah bagian yang penting yang membuat kesenian ini bisa bertahan.
Bagi sebagian masyarakat Jawa Tengah, kesenian ebeg ini sangat terkenal dan setiap pementasanya sealu menarik banyak penonton. Biasanya mereka tampil dalam sebuah hajatan. Sekali pentas mereka mendapat bayaran antara 800 ribu hingga 1 juta rupiah. Tidak terlalu mahal, untuk menyemarakkan hajatan di kampung-kampung.
Salah satu group kesenian ebeg yang masih bertahan di jawan tengah adalah group ebeg Desa bumi Agung, Kecamatan Rowokele, Kebumen. Di ceritakan bahwa kesenian ini sudah ada sejak zaman Pangeran Diponegoro, sekitar abad ke-18. Para pemainya begitu bangga disebut pasukan penunggang kuda, walau kuda yang mereka tunggangi hanya kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu. Mereka sangat mencintai dan menikmati profesi ini.
Di daerah lain kesenian tradisional semacam ini juga sering di sebut dengan kesenian Jaranan. Satu group ebeg biasanya terdiri antara 15-20 orang pemain. Selain ketua rombongan, ada pemain, penabuh gamelan dan penimbul. Posisi tugas yang menarik adalah penimbul, dialah yang bertugas memanggil dan memulangkan arwah atau indang. Penimbul juga harus pandai mengendalikan para pemain yang sduah kerasukan hebat. Dalam kesenian ini bagian inilah yang menarik dan unik. Ketika pemain sudah kerasukan apapun bisa mereka lakukan termasuk makan daging ayam mentah dan memakan beling kaca dan sebagainya.
Tugas penimbul lain yaitu dia harus bisa melindungi seluruh anggota tim dan penonton, bila ada seseorang yang jahil sengaja mengacaukan pertunjukan atau sekedar menjajal ilmunya. Bila ini terjadi biasanya sang penari tidak mampu bergerak. Oleh sebab itu penimbul haruslah orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.
Ebeg adalah pestanya para arwah atau indang sehingga indang selalu meminta suguhan layaknya manusia. Suguhanya adalah berupa kemenyan dan bunga. Berbeda dengan mantera jalangkung yang datang tak di undang dan pulang tak diantar, maka indang, pulang harus di antar.
Biasanya pertunjukan ini di iringi oleh puluhan tembang/gending. Empat diantaranya sangat berpengaruh dalam mengundang indang, mereka adalah cempo, eling eling, kembang jeruk, dan ricik-ricik.
Para penikmat ebeg biasanya memahami benar, apabila satu dari keempat gending itu dimainkan., maka pasti para indang akan segera datang dan merasuki para penari. Sulit memang untuk mempercayainya. Tetapi itulah kesenian ebeg, kesenian yang unik, khas dan mengakar kuat di masyarakat dimana estetika dan alam gaib tidak bisa di pisahkan.
Penimbul biasanya membuat pagar gaib di sekeliling lokasi permainan agar para pemain yang kerasukan tidak keluar dari area permainan sehingga membahayakan para penonton. Baik penimbul dan ketua indang harus membuat semacam perjanjian kapan permainan di mulai dan kapan permainan harus berahir.
Memasuki puncak pertunjukan ebeg, Gending mulai berubah menjadi gending eling eling, dengan tempo yang cepat. Para pemain mempercepat tarianya mengikuti irama gending. Pengaruh magis semakin terasa. Seolah-olah indang berada diatas melayang-layang. Bau kemenyan menebar kemana-mana dan terasa sangat menusuk hidung. Merka tahu bahwa indang semakin mendekat. Sebagian penonton mulai bertingkah aneh.
Pada saat ini orang mulai kehilangan kesadaranya. Namun mereka tetap harus segera di sdarkan agar tetap bisa menari, kendati masih dalam pengaruh indang.
Penonton yang sedang mendem atau kesurupan bisa juga menularkanya kepada temanya. Caranya dengan menyemburkan air kembang atau memandang lalu menjejakkan kainya tiga kali ke tanah. Pertunjukkan selesai penimbul harus menepati janjinya untuk memulangkan kembaliarwah ke tempat dimana mereka bermukim.
Sekali lagi ebeg ini tidak berbeda dengan kesenian kuda lumping. Kekuatan mistis memang menjadi daya tarik kesenian ini.
Itulah sedikit uraian tentang kesenian ebeg dari Jawa Tengah yang hampir punah tergerus oleh budaya modernisasi . kini sebagai anak bangsa sudah saatnya kita melestarikan budaya – budaya bangsa seperti kesenian tradisional in

jenis tarian daerah jawa

 

 


Filed under: Seni Tarian Jawa — asiaaudiovisualexc09nitarusnitasari @ 4:28 am
Beberapa jenis tari yang ada antara lain :
Tari Klasik
– Tari Bedhaya :
JUMENENGAN MANGKUNEGARANBudaya Islam ikut mempengaruhi bentuk-bentuk tari yang berangkat pada jaman Majapahit. Seperti tari Bedhaya 7 penari berubah menjadi 9 penari disesuaikan dengan jumlah Wali Sanga. Ide Sunan Kalijaga tentang Bedhaya dengan 9 penari ini akhirnya sampai pada Mataram Islam, tepatnya sejak perjanjian Giyanti pada tahun 1755 oleh Pangeran Purbaya, Tumenggung Alap-alap dan Ki Panjang Mas, maka disusunlah Bedhaya dengan penari berjumlah 9 orang. Hal ini kemudian dibawa ke Kraton Kasunanan Surakarta. Oleh Sunan Pakubuwono I dinamakan Bedhaya Ketawang, termasuk jenis Bedhaya Suci dan Sakral, dengan nama peranan sebagai berikut :
a. Endhel Pojok
b. Batak
c. Gulu
d. Dhada
e. Buncit
f. Endhel Apit Ngajeng
g. Endhel Apit Wuri
h. Endhel Weton Ngajeng
i. Endhel Weton Wuri
Berbagai jenis tari Bedhaya yang belum mengalami perubahan :
– Bedhaya Ketawang lama tarian 130 menit
– Bedhaya Pangkur lama tarian 60 menit
– Bedhaya Duradasih lama tarian 60 menit
– Bedhaya Mangunkarya lama tarian 60 menit
– Bedhaya Sinom lama tarian 60 menit
– Bedhaya Endhol-endhol lama tarian 60 menit
– Bedhaya Gandrungmanis lama tarian 60 menit
– Bedhaya Kabor lama tarian 60 menit
– Bedhaya Tejanata lama tarian 60 menit
Pada umumnya berbagai jenis Bedhaya tersebut berfungsi menjamu tamu raja dan menghormat serta menyambut Nyi Roro Kidul, khususnya Bedhaya Ketawang yang jarang disajikan di luar Kraton, juga sering disajikan pada upacara keperluan jahat di lingkungan Istana. Di samping itu ada juga Bedhaya-bedhaya yang mempunyai tema kepahlawanan dan bersifat monumental.
Melihat lamanya penyajian tari Bedhaya (juga Srimpi) maka untuk konsumsi masa kini perlu adanya inovasi secara matang, dengan tidak mengurangi ciri dan bobotnya.
Contoh Bedhaya garapan baru :
– Bedhaya La la lama tarian 15 menit
– Bedhaya To lu lama tarian 12 menit
– Bedhaya Alok lama tarian 15 menit
dll.
Tari Srimpi
Tari SrimpiTari Srimpi yang ada sejak Prabu Amiluhur ketika masuk ke Kraton mendapat perhatian pula. Tarian yang ditarikan 4 putri itu masing-masing mendapat sebutan : air, api, angin dan bumi/tanah, yang selain melambangkan terjadinya manusia juga melambangkan empat penjuru mata angin. Sedang nama peranannya Batak, Gulu, Dhada dan Buncit. Komposisinya segi empat yang melambangkan tiang Pendopo. Seperti Bedhaya, tari Srimpipun ada yang suci atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. Juga karena lamanya penyajian (60 menit) maka untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi. Contoh Srimpi hasil garapan baru :
Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit
Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit
dll.
Beberapa contoh tari klasik yang tumbuh dari Bedhaya dan Srimpi :
a. Beksan Gambyong : berasal dari tari Glondrong yang ditarikan oleh Nyi Mas Ajeng Gambyong. Menarinya sangat indah ditambah kecantikan dan modal suaranya yang baik, akhirnya Nyi Mas itu dipanggil oleh Bangsawan Kasunanan Surakarta untuk menari di Istana sambil memberi pelajaran kepada para putra/I Raja. Oleh Istana tari itu diubah menjadi tari Gambyong.
Selain sebagai hiburan, tari ini sering juga ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara peringatan hari besar dan perkawinan. Adapun ciri-ciri Tari ini :
– Jumlah penari seorang putri atau lebih
– Memakai jarit wiron
– Tanpa baju melainkan memakai kemben atau bangkin
– Tanpa jamang melainkan memakai sanggul/gelung
– Dalam menari boleh dengan sindenan (menyanyi) atau tidak.
b. Beksan Wireng : berasal dari kata Wira (perwira) dan ‘Aeng’ yaitu prajurit yang unggul, yang ‘aeng’, yang ‘linuwih’. Tari ini diciptakan pada jaman pemerintahan Prabu Amiluhur dengan tujuan agar para putra beliau tangkas dalam olah keprajuritan dengan menggunakan alat senjata perang. Sehingga tari ini menggambarkan ketangkasan dalam latihan perang dengan menggunakan alat perang. Ciri-ciri tarian ini :
– Ditarikan oleh dua orang putra/i
– Bentuk tariannya sama
– Tidak mengambil suatu cerita
– Tidak menggunakan ontowacono (dialog)
– Bentuk pakaiannya sama
– Perangnya tanding, artinya tidak menggunakan gending
sampak/srepeg, hanya iramanya/temponya kendho/kenceng
– Gending satu atau dua, artinya gendhing ladrang kemudian
diteruskan gendhing ketawang
– Tidak ada yang kalah/menang atau mati.
c. Tari Pethilan : hampir sama dengan Tari Wireng. Bedanya Tari Pethilan mengambil adegan / bagian dari ceritera pewayangan.
Ciri-cirinya :
– Tari boleh sama, boleh tidak
– Menggunakan ontowacono (dialog)
– Pakaian tidak sama, kecuali pada lakon kembar
– Ada yang kalah/menang atau mati
– Perang mengguanakan gendhing srepeg, sampak, gangsaran
– Memetik dari suatu cerita lakon.
Contoh dari Pethilan :
– Bambangan Cakil
– Hanila
– Prahasta, dll.
d. Tari Golek : Tari ini berasal dari Yogyakarta. Pertama dipentaskan di Surakarta pada upacara perkawinan KGPH. Kusumoyudho dengan Gusti Ratu Angger tahun 1910. Selanjutnya mengalami persesuaian dengan gaya Surakarta. Tari ini menggambarkan cara-cara berhias diri seorang gadis yang baru menginjak masa akhil baliq, agar lebih cantik dan menarik. Macam-macamnya :
– Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang
– Golek Montro iringan Gendhing Montro
– Golek Surungdayung iringan Gendhing Ladrang Surungdayung, dll.
e. Tari Bondan : Tari ini dibagi menjadi :
– Bondan Cindogo
– Bondan Mardisiwi
– Bondan Pegunungan/Tani.
Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi merupakan tari gembira, mengungkapkan rasa kasih sayang kepada putranya yang baru lahir. Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak, serta perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo. Ciri pakaiannya :
– Memakai kain Wiron
– Memakai Jamang
– Memakai baju kotang
– Menggendong boneka, memanggul payung
– Membawa kendhi (dahulu), sekarang jarang.
Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. Tapi sekarang ini menurut kemampuan guru/pelatih tarinya. Sedangkan Bondan Pegunungan, melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang, sawah, tegal pertanian. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing lengkap. Ciri pakaiannya :
– mengenakan pakaian seperti gadis desa, menggendong tenggok, memakai caping
dan membawa alat pertanian.
– Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa, hanya tidak memakai jamang tetapi memakai sanggul/gelungan. Kecuali jika memakai jamang maka klat bahu, sumping, sampur, dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok.
Bentuk tariannya ; pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo / Mardisiwi.
f. Tari Topeng :
Tari ini sebenarnya berasal dari Wayang Wong atau drama. Tari Topeng yang pernah mengalami kejayaan pada jaman Majapahit, topengnya dibuat dari kayu dipoles dan disungging sesuai dengan perwatakan tokoh/perannya yang diambil dari Wayang Gedhog, Menak Panji. Tari ini semakin pesat pertumbuhannya sejak Islam masuk terutama oleh Sunan Kalijaga yang menggunakannya sebagai penyebaran agama. Beliau menciptakan 9 jenis topeng, yaitu topeng Panji Ksatrian, Condrokirono, Gunung sari, Handoko, Raton, Klono, Denowo, Benco(Tembem), Turas (Penthul). Pakaiannya dahulu memakai ikat kepala dengan topeng yang diikat pada kepala.
Tari Garapan Baru (Kreasi Baru)
Meskipun namanya ‘baru’ tetapi semua tari yang termasuk jenis ini tidak meninggalkan unsur-unsur yang ada dari jenis tari klasik maupun tradisional. Sebagai contoh :
a. Tari Prawiroguno
Tari ini menggambarkan seorang prajurit yang sedang berlatih diri dengan perlengkapan senjata berupa pedang untuk menyerang musuh dan juga tameng sebagai alat untuk melindungi diri.
b. Tari Tepak-Tepak Putri
Tari yang menggambarkan kelincahan gerak remaja-remaja putri sedang bersuka ria memainkan rebana, dengan iringan pujian atau syair yang bernafas Islam.
Sumber :
 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

alat misik daerah jawa

2nd February 2013 Cat: Alat Musik Tradisional Indonesia with 1 Comment Alat Musik Tradisional Jawa Tengah – Mengenai alat musik tradisional Jawa Tengah sebenarnya tidak beda jauh dengan alat musik tradisional Jawa Barat. Oleh karena itu di dalam artikel ini saya akan menceritakan lebih khusus lagi tentang sejarah alat musik tradisional Jawa Tengah yang patut untuk disimak dan diketahui. Namun sebelum itu, saya akan menuliskan sedikit tentang profil Provinsi Jawa tengah.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Provinsi yang berada paling tengah di Pulau Jawa adalah Provinsi Jawa Tengah. Dan Provinsi Jawa tengah ini sendiri sebenarnya mencakup Daerah Isitimewa Yogyakarta yang berada dibagian wilayah dari Provinsi Jawa Tengah. Provinsi Jawa Tengah ini berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di bagian barat, dan Laut Jawa di sebelah utara. Termasuk Pulau Nusa Kambangan yang berada di sebelah selatan, serta pulau karimun jawa di laut jawa adalah bagian dari Provinsi Jawa Barat.
alat musik tradisional jawa tengah
Ada yang menyebut bahwa Provinsi Jawa Tengah ini adalah jantung dari kebudayaan yang ada di Pulau Jawa. Meskipun begitu bukan berarti di Provinsi Jawa Barat ini tidak ada suku lain selain suku Jawa. Pada kenyataannya terdapat banyak sekali berbagai macam suku yang tinggal wilayah ini selain Suku Jawa yang tetap hidup dengan harmonis. Ada bangsa Arab-Indonesia, ada India-Indonesia bahkan warga Tionghoa-Indonesia juga ada di sana.
Khusus mengenai alat musik tradisional Jawa Tengah yang sebenarnya hampir tidak jauh berbeda dengan alat musik tradisional Jawa Barat, maka saya akan menyampaikan sedikit saja tentang alat musik tradisional di Provinsi Jawa Tengah berikut ini.

Inilah Alat Musik Tradisional Jawa Tengah

Angklung
ALAT MUSIK ANGKLUNG
Tidak berbeda dengan Angklung yang berasal dari Jawa Barat. Angklung yang ada di Jawa Tengah ini juga merupakan alat musik tradisional yang dibuat dari bambu dan cara memainkannya dengan digoyang hingga ruas-ruas bambu tersebut bersentuhan dan menghasilkan suara yang khas. Saya akan ceritakan sejarah angklung lebih jauh lagi di dalam artikel ini.
Gamelan
Gamelan adalah jenis alat musik pukul yang biasanya dipadu dengan berbagai alat musik lainnya seperti metalofon, gong, gendang, dan gambang. Bahkan pada abad ke-18 gong itu dianggap merupakan sinonomi dari gamelan. Gamelan ini terbuat dari lempengan-lempengan logam yang disusun diatas sebuah kotak kayu yang digantung dengan tali secara mendatar. Tiap-tiap potongan logam berbeda panjang untuk menghasilkan perbedaan tangga nada yang dihasilkan.

Berikut ini adalah Sejarah Alat Musik Tradisional Jawa Tengah

Sejarah Angklung
Pada awalnya, angklung sebenarnya digunakan oleh pemerintah kita di tahun 1971 saat itu sebagai salah satu alat untuk diplomasi budaya. Bahkan penyebaran alat musik tradisional Jawa Tengah yang satu ini menyebar sampai ke manca negara. Tercatat lebih dari 8.000 sekolah di Korea Selatan mempelajari Angklung sebagai salah satu mata pelajaran mereka di sekolah. Demikian juga di Skotlandia dan Argentina.
Dimulai tahun 2002, pemerintah kita melalui Departemen Luar Negeri telah membuka kesempatan kepada para pelajar yang berasal dari luar negeri untuk mempelajari angklung di Indonesia. Dan Angklung ini tidak hanya lagi sekedar alat musik yang menjadi kebanggaan negara kita, bahkan menjadi salah satu media yang memupuk rasa persaudaraan berbagai bangsa di dunia. Bahkan negara-negara luar tahu tentang filosofi angklung ini, yaitu 5 M (mudah, menarik, meriah, mendidik, massal).
Tidak tanggung-tanggung, bahkan ada bukti tertulis tentang penggunaan Angklung tertua dalam sejarah Indonesia. Yaitu seperti yang tertulis di Prasasti Cibadak. Di prasasti tersebut tertulis tahun 1031 SM atau 952 Saka yang terletak di Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Tertulis juga diprasasti tersebut bahwa Sri Jayabuphati sebagai Raja Sunda di masa itu menggunakan angklung dalam berbagai upaca keagamaan.
Bukti lain juga terdapat dalam sebuah buku Nagara Kartagama tertulis tahun 1359 yang menjelaskan bahwa di zaman itu angklung telah digunakan untuk menyambut para tamu kerajaan dan untuk memeriahkan acara-acara pesta di beberapa kerajaan. Dari sagi kata “angklung” itu berasal dari dua suku kata alam bahasa sunda yaitu “Angka” yang artinya nada dan kata “lung” yang berarti pecah. Jika digabungkan maka Angklung itu artinya alat musik yang bernada pecah.
Sejarah Gamelan
Menurut sejarah, alat musik Gamelan ini dimulai dengan masuknya budaya Hindu-Budha yang saat pada masa itu mendominasi beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Tengah. Pada zaman kerajaan Majapahit instrumen gamelan ini terus dikembangkan. Dalam kebudayaan Jawa ada yang menyebutkan bahwa Sang Hyang Guru pada Era Saka yang merupakan dewa yang saat itu diyakini sebagai penguasa tanah jawa adalah yang menciptakan Gamelan.
Ukiran yang bergambar alat musik tradisional Jawa Tengah satu ini pertama kali ditemukan di Candi Borobudur, kota Magelang Jawa Tengah. Yang mana kita tahu bahwa Candi Borobudur sendiri dibangun pada abad ke-8. Selain Gamelan beberapa alat musik lainnya seperti suling bambu, gendang, lonceng, kecapi, dan lain sebagainya juga ditemukan di dalam relief di Candi Borobudur tersebut.
Nah, itulah sejarah singkat tentang dua buah alat musik tradisional Jawa Tengah yang terkenal bahkan telah mendunia ini. Maka menjadi tugas kita lah untuk melestarikan dan menjaga kekayaan budaya dan kesenian yang ada di tanah Jawa khususnya, dan umumnya di seluruh pelosok nusantara.
Comments for Alat Musik Tradisional Jawa Tengah

Trackbacks

  1. Alat Musik Tradisional Yogyakarta

Leave a Comment for Alat Musik Tradisional Jawa Tengah







+ 5 = fourteen

adat busana yogyakarta dan solo


Dari rangkaian upacara sakral prosesi pernikahan Keraton, yang paling ingin dilihat adalah pakaian sang Pengantin. Ya, dimana pun, pasti sang Pengantin lah yang menjadi fokus utama dalam upacara pernikahan. Oleh karena itu, saya ingin mengulas sedikit mengenai Tata Rias Busana Pengantin Adat Jawa  Jogja yang identik dengan Keraton Jogja.
Memang, sebagai rakyat biasa, tentu tidak harus menggunakan pakaian khusus laykanya tradisi Keraton, tetapi tidak salah bagi kita untuk tahu lebih dalam mengenai Busana Pengantin adatnya kan…
Yang paling terkenal dalam pernikahan adat Jogja adalah Gaya Busana Jogja Paes Ageng atau Kebesaran.

Pengantin Jogja Paes Ageng menggunakan dodot atau kampuh lengkap denan perhiasan khusus. Busana ini dipakai saat upacara Panggih atau Resepsi. Pada wanita, Paes hitam dengan sisi keemasan pada dahi, rambut sanggul bokor dengan gajah ngolig yang menjuntai indah, serta sumping dan aksesoris unik. Pengantin prianya, memakai kuluk menghiasi kepala, ukel ngore (buntut rambut menjuntai) dilengkapi sisir dan cundhuk mentul kecil.
Selain Paes Jogja Ageng, ada Paes Ageng Jangan Menir.
Busana ini digunakan pada upacara Boyongan. Berbeda dengan Paes Ageng, Paes Ageng Jangan Menir tidak memakai kain kampuh maupun dodot. Pengantin pria memakai bahu blenggen dari bahan beludru berhias bordir, pinggang dililit selendang berhias pendhing, dan kuluk kanigara menutup kepala. Busana yang dikenakan adalah baju blenggen atau bordiran. Pengantin memakai kain bercorak cinde.
Yang ketiga adalah Jogja Putri. 
Busana ini seperti kebaya umumnya dan terlihat lebih sederhana. Pengantin wanitanya bersanggul gelung tekuk berhias cundhuk mentul (kembang goyang) serta untaian melati menjuntai di dada dengan busana menggunakan kebaya beludru panjang berhias sebuah bordir keemasan dan kain batik prada. Sedangkan Mempelai pria berbusana beskap putih dipadu bawahan kain batik prada serta blangkon penutup kepala.


Busana “Paes Ageng“ Keraton Yogyakarta dan Solo


Busana dan tata rias paes ageng memiliki kesakralan dan makna filosofi tersendiri
paes ageng,solo,yogyakarta
Sebanyak 23 pengantin wanita dengan menggunakan tata rias dan busana “Paes Ageng” Keraton Yogyakarta dan Solo berjalan kaki di sepanjang Malioboro, Yogyakarta, Selasa (26/6). Meski terik matahari menyengat, masyarakat sekitar sangat antusias menonton peragaan busana dan tata rias kaum bangsawan keraton yang sangat jarang dipertontonkan.
“Tata rias dan busana paes ageng kedua keraton ini dimaksudkan untuk mengenalkan budaya Jawa khususnya budaya Keraton. Selama ini, busana tata rias keluarga Raja jarang dipertontonkan ke masyarakat umum," ujar Koordinator Acara, Ryan Budi Nuryanto, di acara Parade Paes Ageng On the Street Nol KM with FKY XXIV, Selasa (26/6)
Dengan parade ini, ingin ditunjukkan bahwa busana dan tata rias kerajaan bisa digunakan masyarakat umum. Paes ageng adalah busana yang memiliki kain batik dengan warna dasar tertentu misalnya warna hijau Gadung Mlati, dengan motif alas-alasan yang diprada (dilukis dengan air emas).
Terciptanya busana pengantin ini diperkirakan setelah adanya Perjanjian Giyanti. Waktu itu, seluruh gaya busana dari Keraton Surakarta Hadiningrat dibawa ke Keraton Yogyakarta Hadiningrat sebagai hadiah dari Susuhan Paku Buwono II kepada putranya, Pangeran Mangkubumi.
Hadiah ini merupakan wujud penghargaan kepada Pangeran Mangkubumi yang telah menang perang dengan Belanda dan berhasil memperoleh tanah kembali (saat ini menjadi Yogyakarta). Pangeran Mangkubumi pun akhirnya diangkat menjadi Raja Yogyakarta pertama dengan gelar Sri Sultan HB I.
Setelah peristiwa itu, Keraton Surakarta Hadiningrat membuat desain (gagrak) baru dengan pola bergaya barat. Biasanya busana baru ini kita kenal dengan nama beskap, langenharjan, baju teni.
Pada zaman dulu, busana dan tata rias paes ageng Keraton Yogyakarta dan Solo hanya boleh dikenakan oleh kerabat raja. Untuk di Yogyakarta, baru pada masa Sultan HB IX atau tahun 1940, masyarakat umum diijinkan memakai busana ini dalam upacara pernikahan.
“Sampai saat ini paes ageng sudah digunakan masyarakat Jawa pada umumnya saat upacara pernikahan. Paes ageng ini memiliki makna filosofi sendiri yang terkandung dalam setiap detail wajah, busana, dan aksesorinya,” ungkap Ryan.
Perias Hanifa, mengungkapkan bahwa paes ageng memiliki makna sakral. Sebelum merias pengantin wanita, perias wajib berpuasa sebelum menjalankan acara. Tujuan utamanya adalah mengendapkan perasaan untuk membersihkan jiwa dan menguatkan batin agar dapat melaksanakan tugas dengan baik dan terhindar dari petaka.
“Masyarakat Jawa percaya bahwa kebersihan dan kekuatan batin juru rias akan menjadikan pengantin yang diriasnya cantik, molek, dan bersinar,” katanya.
Salah satu peserta paes ageng, Oky Sundari, mengaku bangga menggunakan busana dan tata rias busana kerajaan ini. Ia berharap, dengan parade ini, masyarakat lebih mengenal secara dekat dan detail busana dan tata rias paes ageng. Tak hanya itu, dengan memperkenalkan busana ini, aset budaya Jawa akan tetap terpelihara.






Ambarketawang adalah sebuah kelurahan yang terletak di kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Terbentuknya Desa Ambarketawang berdasarkan Maklumat Pemerintah Provinsi Yogyakarta pada tahun 1946 yang menggabungkan empat kelurahan yakni; Kelurahan Gamping, Mejing, Bodeh, dan Kalimanjung ke dalam satu Kelurahan (Desa) yang disebut dengan Ambarketawang. Nama Ambarketawang berarti bau harum yang memenuhi angkasa.
Nama Ambarketawang diambil dari nama pesanggrahan Sultan Hamengkubuwana I, yang terletak di desa ini. Menurut sejarah, akibat perjanjian Gianti (1755), dibangunlah Kraton Yogyakarta. Saat proses pembangunan Sultan HB I sementara tinggal di sebelah barat kota Yogyakarta yang dikenal sebagai pesanggrahan Ambarketawang. Lokasi tersebut saat ini terletak di Padukuhan Tlogo.
Desa Ambarketawang meliputi 13 Padukuhan, yang terdiri 38 RW dan 110 RT, meliputi wilayah seluas kurang lebih 635.8975 Ha. Jumlah penduduk di desa ini berjumlah 19.237 Jiwa. Wilayah Desa Ambarketawang membujur dari arah utara ke selatan, dimana bagian selatan merupakan daerah perbukitan/pegunungan kapur, sedangkan daerah utara merupakan dataran.
Keberadaan Desa Ambarketawang dijalur utama Yogyakarta-Purwokerto/Jakarta, mengakibatkan wilayah desa Ambarketawang berkembang dengan pesat terutama dalam bidang perekonomian,perindustriyan, perdagangan dan kependudukan. Dengan perkembangan yang begitu pesat dengan dukungan keberadaan Kantor Kecamatan Gamping serta kantor-kantor, mengakibatkan wilayah ini menjadi pusat pengembangan Ibukota Kecamatan, dan merupakan wilayah pengembangan Kota Yogyakarta kearah barat.

makanan khas daerah jawa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Berikut adalah makanan khas yang terdapat di Jawa Tengah, menurut kabupaten/kota:
Gudeg