Dari rangkaian upacara sakral prosesi
pernikahan Keraton, yang paling ingin dilihat adalah pakaian sang Pengantin.
Ya, dimana pun, pasti sang Pengantin lah yang menjadi fokus utama dalam upacara
pernikahan. Oleh karena itu, saya ingin mengulas sedikit mengenai Tata Rias
Busana Pengantin Adat Jawa Jogja yang identik dengan Keraton Jogja.
Memang, sebagai rakyat biasa, tentu
tidak harus menggunakan pakaian khusus laykanya tradisi Keraton, tetapi tidak
salah bagi kita untuk tahu lebih dalam mengenai Busana Pengantin adatnya kan…
Yang paling terkenal dalam pernikahan
adat Jogja adalah Gaya Busana Jogja Paes Ageng atau Kebesaran.
Pengantin Jogja Paes Ageng menggunakan
dodot atau kampuh lengkap denan perhiasan khusus. Busana ini dipakai saat
upacara Panggih atau Resepsi. Pada wanita, Paes hitam dengan sisi keemasan pada
dahi, rambut sanggul bokor dengan gajah ngolig yang menjuntai indah, serta
sumping dan aksesoris unik. Pengantin prianya, memakai kuluk menghiasi kepala,
ukel ngore (buntut rambut menjuntai) dilengkapi sisir dan cundhuk mentul kecil.
Selain Paes Jogja Ageng, ada Paes Ageng
Jangan Menir.
Busana ini digunakan pada upacara
Boyongan. Berbeda dengan Paes Ageng, Paes Ageng Jangan Menir tidak memakai kain
kampuh maupun dodot. Pengantin pria memakai bahu blenggen dari bahan beludru
berhias bordir, pinggang dililit selendang berhias pendhing, dan kuluk kanigara
menutup kepala. Busana yang dikenakan adalah baju blenggen atau bordiran.
Pengantin memakai kain bercorak cinde.
Yang ketiga adalah Jogja Putri.
Busana ini seperti kebaya umumnya dan
terlihat lebih sederhana. Pengantin wanitanya bersanggul gelung tekuk berhias
cundhuk mentul (kembang goyang) serta untaian melati menjuntai di dada dengan
busana menggunakan kebaya beludru panjang berhias sebuah bordir keemasan dan
kain batik prada. Sedangkan Mempelai pria berbusana beskap putih dipadu bawahan
kain batik prada serta blangkon penutup kepala.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar